Hai teman-teman....
Kita ini adalah mahasiswa dari STIKES Hang Tuah Surabaya, Ini blog kelompok kita yang terkeren loooh.. Kita terdiri dari 5 anggota kelompok, ada Hanny Horizoni sebagai ketuanya loh, ada Geovani Anggasta Lidyawati, ada Risca Putri, ada Mustika Larasati Pribadi,dan ini paling ganteng sendiri ada Yogi Yussanto.
Kita punya video keren loooh... tentang operasi ibu melahirkan secara caesar dengan obat Anestesia (Lidokain). Kalau penasaran sama videonya, lihat dibawah ini....
MATERI OBAT ANESTESIA
Definisi
Kata anestesi berasal dari bahasa Yunani yang berarti keadaan tanpa rasa sakit. Anestiologi
adalah cabang kedokteran yang mendasari berbagai tindakan yang meliputi
pemberian anestasi ataupun analgesi, pengawasan keselamatan pasien
dioperasi atau tindakan lainnya, bantuan hidup (resusitasi), perawatan
intensif pasien gawat, pemberian terapi inhalasi dan penanggulangan
nyeri menahun.
Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi
lokal dan anestesi umum. Pada anestesi lokal hilangnya rasa sakit tanpa
disertai hilangnya kesadaran, sedangkan pada anestesi umum hilangnya rasa sakit
disertai hilangnya kesadaran.
Obat
Anestesi Umum
Anestesi umum adalah tindakan menghilangkan rasa nyeri/sakit
secara sentral disertai hilangnya kesadaran dan dapat pulih kembali (reversible).
Komponen trias anestesi
ideal terdiri dari hipnotik, analgesik, dan relaksasi otot.
Usaha
menekan rasa nyeri pada tindakan operasi dengan menggunakan obat telah
dilakukan sejak zaman dahulu termasuk pemberian alkohol dan opium secara oral.
Tahun 1846, William Morton, dari Boston, pertama kali menggunakan obat anestesi
dietil eter untuk menghilangkan nyeri operasi. Pada tahun yang sama, James
Simpson, dari Skotlandia, menggunakan kloroform yang 20 tahun kemudian diikuti
dengan penggunaan nitrogen oksidia, yang diperkenalkan Davy pada era tahun
1790-an. Anestetik modern mulai dikenal pada era tahun 1930-an, dengan
pemberian barbiturat tiopental secara intravena. Beberapa puluh tahun yang
lalu, kurare pun pernah diperkenalkan sebagai obat anestesi umum untuk merelaksasi
otot skelet selama operasi berlangsung. Tahun 1956, hidrokarbon halogen yang
dikenal dengan nama halotan mulai dikenal sebagai obat anestik secara inhalasi
dan menjadikannya sebagai standar pembanding untuk obat-obat anestesi lainnya
yang berkembang sesudah itu.
Stadium anestesi
umum meliputi:
-
Analgesia
2. Amnesia3. Hilangnya kesadaran4. Terhambatnya sensorik dan refleks otonom5. Relaksasi otot rangka
Untuk
menimbulkan efek ini, setiap obat anestesi punya variasi tersendiri, bergantung
pada jenis obat, dosis yang diberikan, dan keadaan secara klinis.
Sejumlah
obat anestesi yang digunakan bergantung pada jenis operasi yang akan
dilaksanakan. Untuk operasi kecil, obat-obat consious sedation dapat
digunakan, termasuk penggunaan benzodiazepin ersama dengan obat lokal anestesi.
Anestesi
yang seimbang yang meliputi penggunaan barbiturat kerja singkat, N2O,
dan opium secara intravena, telah dipakai secara luas. Pada operasi besar,
prosedur anestesi selalu memberi medikasi preoperatif seperti obat-obat
penenang dan penghilang nyeri, penggunaan tiopental atau obat-obat anestetik
intravena lainnya, serta penggunaan inhalasi secara sendiri-sendiri ataupun
dalam bentuk kombinasi dengan anestetik intravena. Pada banyak kasus,
penggunaan obat relaksasi otot juga dimasukkan dalm prosedur untuk anestesi
umum.
JENIS
OBAT ANESTESI UMUM
Anestetik
Inhalasi
Nitrogen oksida
yang stabil pada tekanan dan suhu kamar merupakan salah satu anestetik gas yang
banyak dipakai karena dapat digunakan dalam bentuk kombinasi dengan anestetik
lainnya. Halotan, enfluran, isofluran, desfluran, dan metoksifluran yang
merupakan zat cair yang dapat menguap. Sevofluran merupakan anestetik inhalasi
baru tetapi belum diizinkan beredar di USA. Anestetik konvensional seperti
eter, siklopropan, dan kloroform pemakainnya sudah dibatasi karena eter dan
siklopropan mudah terbakar sedangkan klorofrom toksik terhadap hati.
Anestetik
Intravena
Beberapa
obat anestetik diberikan secara intravena baik tersendiri maupun dalam bentuk
kombinasi dengan anestetik lainnya untuk mempercepat tercapainya stadium
anestesi ataupun sebagai obat penenang pada penderita gawat darurat yang dapat
pernapasan buatan untuk waktu yang lama. Termasuk di sini adalah:
1. Barbiturat (tiopental, metoheksital)
2. Benzodiazepin (midazolam, diazepam)
3. Opioid analgesik dan neuroleptik
4. Obat-obat lain (prefopol, etomidat)
5. Ketamin, arilskloheksamin yang sering disebut disosiatif anestetik
1. Barbiturat (tiopental, metoheksital)
2. Benzodiazepin (midazolam, diazepam)
3. Opioid analgesik dan neuroleptik
4. Obat-obat lain (prefopol, etomidat)
5. Ketamin, arilskloheksamin yang sering disebut disosiatif anestetik
Tanda
dan Stadium Anestesi
Secara
tradisional efek anestetik dapat dibagi 4 stadium penigkatan dalamnya depresi
susunan saraf pusat.
-
Stadium
Analgesi: pada stadium awal ini penderita
mengalami analgesi tanpa disertai kehilangan kesadaran. Pada akhir stadium 1
baru didapatkan amnesia dan analgesi.
2. Stadium Terangsang: pada stadium ini, penderita tampak delirium dan gelisah, tetapi kehilangan kesadaran. Volume dan kecepatan pernapasan tdak teratur, dapat terjadi mual dan muntah. Inkontinensia urin dan defekasi sering terjadi. Karena itu harus diusahakan untuk membatasi lama dan berat stadium ini, yang ditandai dengan kembalinya pernapasan secara teratur.3. Stadium Operasi: stadium ini ditandai dengan pernapasan yang teratur dan berlanjut sampai berhentinya pernapasan secara total. Ada 4 tujuan pada stadium III digambarkan dengan perubahan pergerakan mata, refleks mata, dan ukuran pupil dalam keadaan tertentu dapat merupakan tanda peningkatan dalam anestesi.4. Stadium Depresi Medula Oblongata: bila pernapasan spontan berhenti, maka akan masuk ke dalam stadium IV. Pada stadium ini akan terjadi depresi berat pusat pernapasan di medula oblongata dan pusat vasomotor. Tanpa bantuan respirator dan sirkulasi, penderita akan cepat meninggal.
ANESTETIK
INHALASI
Farmakokinetik
Dalamnya
anestesi ditentukan oleh konsentrasi anestetik di dalam saraf pusat. Faktor
tersebut menentukan perbedaan kecepatan transfer anestetik inhalasidari paru ke
dalam darah serta dari darah ke otak dan jaringan lainnya.
Ambilan dan Distribusi
Konsentrasi
masing-masing gas dalam suatu campuran gas anestetik sebanding dengan tekanan
atau tegangan parsialnya. Tercapainya konsentrasi obat anestetik yang adekuat
dalam otak untuk menimbulkan anestesi memerlukan transfer obat anestesik dari
udara alveolar ke dalam otak dan darah. Kecepatan pencapaian konsentrasi ini
bergantung pada difat kelarutan anestetik, konsentrasinya dalam udara yang
diisap, laju ventilasi paru, aliran darah paru, dan gradien konsentrasi obat
anestesi antara darah arteri dan campuran darah vena.
A.
Kelarutan
Anestetik
|
Darah: Koefisien
Pembagian Gas1
|
Otak: Koefisien
Pembagian Darah1
|
Konsentrasi Alveolar
Minimum2
(persen) |
Nitrogen Oksida
|
0,47
|
1,1
|
>100
|
Desfluran
|
0,42
|
1,2
|
6-7
|
Savofluran
|
0,69
|
1,7
|
2,0
|
Isofluran
|
1,40
|
2,6
|
1,40
|
Influran
|
1,80
|
1,4
|
1,66
|
Halotan
|
2,30
|
2,9
|
0,75
|
Metoksifluran
|
12,00
|
2,0
|
0,16
|
1Koefisien
pembagian (pada 37oC) diambil dari berbagai sumberkepustakaan.
2Konsentrasi
Alveolar Minimum (KAM) konsentrasi anestetik dimana 50% penderita terpapar pada
rangsang yang merugikan.
B.
Konsentrasi
Anestetik di Dalam Udara Inspirasi
Konsentrasi
anestetik inhalasi di dalam campuran gas inspirasi mempunyai efek langsung
terhadap tegangan maksimum yang dapat tercapai di dalam alveolus maupun
kecepatan peningkatan tegangan ini di dalam darah arterinya. Peningkatan
koefisien anestetik inspirasi akan meningkatkan kerja induksi anestesi karena
peningkatan kecepatan transfernya ke dalam otak sesuai dengan Hukum Fick.
Keuntungan ini diambil dalam praktek anestesi dengan obat anestesi inhalasi
yang kelarutan dalam darahnya sedang seperti enfluran, isofluran, dan halotan
yang mula kerjanya relatif lambat.
C.
Ventilasi
Paru
Kecepatan
peningkatan tegangan gas di dalam darah arteri bergantung pada kecepatan dan
dalamnya ventilasi per menit. Besarnya efek ini bervariasi sesuai dengan
pembagian koefisien darah: gas. Peningkatan ventilasi paru hanya diikuti
sedikit peningkatan tegangan arteri obat anestesi dengan kelarutan darah yang
rendah atau koefisien yang rendah tetapi dapat meningkatkan tegangan obat
dengan kelarutan darah yang sedang atau tinggi secara bermakna.
D.
Aliran
Darah Paru
Perubahan
kecepatan aliran darah dari dan menuju paru akan mempengaruhi transfer obat
anestetik. Peningkatan aliran darah paru akan memperlambat kecepatan
peningkatan darah arteri, terutama oleh obat anestetik dengan kelarutan darah
yang sedang sampai tinggi peningkatan aliran darah paru yang menghasilkan
volume darah yang lebih besar obat anestetik. Pada seorang penderita dengan
syok sirkulasi, kombinasi penurunan efek curah jantung dan peningkatan
ventilasi dapat mempercepat induksi arteri sejumlah obat anestetik. Efek ini
tidak mungkin timbul dengan nitrogen oksida karena kelarutannya yang rendah.
E.
Gradien
Konsentrasi Arteri-Vena
Gradien obat anestetik antara darah arteri dan vena
campuran terutama tergantung pada ambilan obat anestesi pada jaringan itu; yang
bergantung pada kecepatan dan luas ambilan jaringan. Selama fase induksi anestesi,
jaringan yang mempunyai pegaruh terbesar atas gradien koefisien anestetik
arteri-vena yaitu jaringan yang mempunyai perfusi yang tinggi seperti otak,
jantung, hati, ginjal, dan daerah selanknikus, yang secara bersama-sama
menerima lebih dari 75% cyrah jantung istirahat.
Selama pemeliharaan anestesi dengan obat anestetik
inhalasi, mungkin transfer obat anestetik akan berlangsung terus antar berbagai
jaringan dengan kecepatan yang bergantung pada kelarutan dan aliran darah.
Pembuangan
Waktu
pemulihan anestesi inhalasi bergantung pada kecepatan pembuanganobat anestetik
dari otak setelah konsentrasi obat anestesi yang diisap menurun. Faktor-faktor
yang mengontrol kecepatan anestesi meliputi aliran darah paru, besarnya
ventilasi, serta kelarutan obat anestesi dalam jaringan dan darah serta
dalamnya fase gas dalam paru. Gambaran pemulihan yang jelas, namun berbeda
selama induksi anestesi dapat dijelaskan sebagai berikut.
·
Pertama, sementara
proses obat anestesi dari paru ke dalam darah dapat diperbesar dengan
meningkatkan konsentrasinya di dalam udara inspirasi, proses transfer
sebaliknya tidak dapat diperbesar karena konsentrasi di dalam paru tidak dapat
diturunkan sampai di bawah nol.
·
Kedua, pada awal
pemulihan, tegangan gas anestetik dalam berbagai jaringan mungkin bervariasi,
bergantung pada jenis dan lamanya anestesi berlangsung. Dengan induksi
anestesi, tegangan awal obat anestesi di semua jaringan adalah nol.
Anestetik
inhalasi yang relatif tidak larut dalam darah dan otak akan dibuang dalam
kecepatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan obat anestetik yang lebih
larut. Bersihan anestetik inhalasi dari paru ke dalam udara ekspirasi merupakan
jalur utama pembuangannya dari tubuh. Tetapi metabolisme oleh enzim hati dan
jaringan lainnya dapat juga membantu bersihan obat anestetik.
Farmakodinamik
Mekanisme Kerja
Kerja
neurofisiologik yang penting pada obat anestetik umum adalah dengan
meningkatkan ambang rangsang sel (Aloia, 1991). Dengan meningkatnya ambang
rangsang akan terjadi penurunan aktivitas neuronal. Obat anestetik
inhalasi—seperti juga intravena barbiturat dan benzodiazepin—menekan aktivitas
neuron otak sehingga akson dan transmisi sinaptik tidak bekerja. Kerja tersebut
digunakan pada transmisi aksonal dan sinaptik, tetapi proses sinaptik lebih
sensitif dibandingkan efeknya. Mekanisme ionik yang diperkirakan terlibat
adalah bervariasi. Anestetik inhalasi gas telah dilaporkan menyebabkan hiperpolarisasi
saraf dengan aktivitas aliran K+, sehingga terjadi penurunan
kemampuan aksi potensial awal, yaitu peningkatan ambang rangsang.
Mekanisme
molekular dengan anestetik gas mengubah aliran ion pada membran neuronal
belumlah jelas. Efek ini dapat menghasilkan hubungan interkasi langsung antara
molekul anestetik dan tempat hidrofobik pada saluran membran protein yang
spesifik. Konsep mengenai interaksi secara tidak langsung yang diperantarai
melalui cairan membran lipid yang disokong oleh penelitian anestetik pada
membran lipid buatan. Studi ini menunjukan bahwa anestetik gas larut dalam
lipid, hal ini meningkatkan keadaan cair membran yang menyebabkan pengurangan
“keteraturan” struktur lipid. Perubahan dalam matriks lipid ini dapat mengubah
fungsi saluranpada membran lipid.
Pada
binatang percobaan, anestesi umum dapat dihilangkan dengan menempatkan hewan
pada ruang bertekanan tinggi. Tekanan yang tinggi—misalnya, 50-100
atm—menyebabkan hilangnya stadium anestesi. Tekanan tinggi diketahui
meningkatkan matriks lipid membran. Beberapa percobaan menyatakan bahwa molekul
obat anestetik larut dalam lipid—dan menghasilkan penurunan—menyebabkan sedikit
perluasan yang mengubah saluran ion.
Dasar
neurofarmakologi untuk efek yang menandai stadium anestesi merupakan perbedaan sensitivitas saraf spesifik
atau jaras saraf terhadap obat anestesi. Sel-sel substansia gelatinosa pada
kornu dorsalis medula spinalis sangat sensitif terhadap konsentrasi anestetik
yang relatif rendah di dalam susunan saraf pusat. Penurunan aktifitas saraf
kornu dorsalis akan mengganggu hantaran sensoris di dalam traktus
spinotalamikus termasuk rangsangan nosiseptif. Efek tersebut menyokong Stadium
I. Efek dari obat anestesi umum yang menghilangkan hambatan (Stadium II),
terjadi pada konsentrasi yang lebih tinggi di dalam otak, disebabkan oleh kerja
saraf yang kompleks termasuk penghambatan terhadap banyak neuron penghambat
kecil seperti sel Golgi tipe II, yang bersama-sama dengan fasilitasi paradoksal
dari neurotransmiter eksitasi. Suatu depresi progresif jalur asenden di dalam
sistim pengaktivasi retikularis terjadi dalam Stadium III bersama dengan
penekanan efek spinal yang menyebabkan relaksasi otot. Saraf pada pusat
pernapasan dan pusat vasomotorpada medula oblongata relatif tidak sensitif
terhadap anestesi umum, tetapiaktivitasnya akan tertekan pada konsentrasi
tinggi yang akan menimbulkan kolaps kardiorespirasi (Stadium IV).
Karakteristik Dosis-Respon: Konsentrasi Alveolar
Minimum Obat Anestesi (KAM)
Obat
anestetik inhalasi masuk ke dalam paru dalam bentuk campuran gas dengan
konsentrasi dan kecepatan pengaliran yang mudah diukur dan dikontrol. Akan
tetapi, pencapaian keadaan anestesi secara klinik sukar diukur. Pertama, hasil
stadium anestesi bergantung pada konsentrasi obat anestetik di dalam otak
dimana konsentrasi ini sukar diukur pada kondisi klinik penderita. Kedua, tidak
semua kurva dosis respons minimal dan maksimal merupakan faktor yang
menentukan, walaupun pada dosis yang sangat rendah rasa nyeri masih terasa.
Pemberian dosis tinggi mempunyai resiko yang besar karena adanya depresi
pernapasan dan kardiovaskular. Akhirnya penggunaan optimal dosis anestetik dapat
tercapai dengan menggunakan prinsip respons dosis quantal.
Selama
anestesi umum, tekanan persial anestetik inhalasi pada otak sama dengan tekanan
di dalam paru saat dosis anestetik telah tercapai. Pada pemberian kadar
anestesi, pengukuran konsentrasi alveolar keadaan tetap anestesi yang berbeda
memberikan perbandingan potensi relatifnya. Konsentrasi alveolar minimum obat
anestetik didefinisikan sebagai konsentrasi (yaitu persentase campuran gas
dalam alveolar, atau tekanan parsial obat anestetik dalam persentase terhadap
tekanan 760 mmHg) yang menyebabkan imobilitas 50% penderita ketika terpapar
rangsangan yang merugikan seperti insisi bedah.
Efek Anestetik Inhalasi terhadap Sistem Organ
A.
Efek
terhadap kardiovaskuler: halotan, desfluran,
enfluran, dan isofluran menurunkan tekanan arteri rata-rata yang berbanding
langsung dengan konsentrasi alveolarnya. Dengan halotan dan enfluran, penurunan
tekanan arteri tampaknya disebabkan karena penurunan curah jantung, karena sedikitnya
perubahan dalam tahanan vaskular sistemik. Sebaliknya, isofluran dan desfluran
mempunyai efek depresi terhadap tekanan arteri sebagai akibat penurunan tahanan
vaskular sistemik. Anestesi inhalasi mengubah denyut jantung dengan mengubah
depolarisasi nodus sinus secara langsung atau dengan mengubah keseimbangan
aktivitas saraf otonom. Bradikardia mungkin terlihat pada halotan dan mungkin
dihasilkan karena depresi langsung atas kecepatan atrium. Sebaliknya
metoksifluran dan enfluran meningkatkan denyut jantung.
Semua obat anestetik inhalasi cenderung
meningkatkan tekanan atrium kanan yang bergantung pada dosis dan sekaligus
menggambarkan depresi fungsi miokardium. Anestetik inhalasi mengurangi konsumsi
oksigen jantung, terutama dengan menurunkan variabel tersebut yang mengontrol
kebutuhan oksigen, seperti tekanan darah arteri dan kekuatan kontraktilitas.
Banyak faktor yang mempengaruhi efek kardiovaskuler pada pemberian anestetik
inhalasi. Perangsangan selama operasi, hiperkapnea, dan lamanya operasi berlangsung
akan menurunkan efek depresi obat anestetik inhalasi.
B.
Efek
terhadap sistem pernapasan: dengan pengecualian
terhadap nitrogen oksida, semua anestetik inhalasi akan menurunkan volume tidal
dan meningkatkan frekuensi pernapasan. Akan tetapi peningkatan frekuensi
pernapasan tidak cukup untuk mengkompensasi penurunan volume, yang menghasilkan
penurunan pernapasan per menit. Semua obat anestesi inhalasi akan menekan
pernapasan. Semua obat anestetik inhalasi meningkatkan kadar PaCO2.
Anestetik inhalasi meningkatkan
ambang apnoe dan menurunkan respons ventilasi terhadap hipoksia. Semua
permasalahan depresi pernapasan oleh obat anestesi dapat diatasi dengan
ventilator mekanis selama operasi berlangsung. Obat anestetik inhalasi juga
menekan fungsi mukosilia saluran pernapasan. Jadi anestesi yang berlangsung
lama dapat menyebabkan penimbunan mukus dan dapat mengakibatkan ateletaksis dan
infeksi saluran pernapasan. Di lain pihak, obat anestetik inhalasi cenderung
bersifat bronkodilator.
C.
Efek
terhadap otak: obat anestetik inhalasi menurunkan
laju metabolik obat. Namun kebanyakan meningkatkan aliran darah serebrum karena
penurunan tahanan vaskular serebri. Peningkatan aliran darah serebrum sering
tidak diharapkan dalam klinik. Diantara obat anestetik inhalasi, nitrogen
oksida paling sedikit menyebabkan peningkatan aliran darah ke otak, walaupun
jika nitrogen oksida 60% ditambahkan bersama anestetik halotan, maka aliran
darah otak selalu meningkat lebih banyak dibandingkan dengan pemberian halotan
sendiri.
D.
Efek
terhadap ginjal: dalam berbagai derajat, semua obat
anestetik inhalasi akan menurunkan filtrasi glomerulus dan aliran plasma ginjal
serta meningkatkan fraksi filtrasi. Semua obat anestetik cenderung meningkatkan
tahanan vaskular ginjal. Penurunan aliran darah ginjal selama anestesi umum
akan mengganggu autoregulasi aliran darah ginjal.
E.
Efek
terhadap hati: semua obat anestetik inhalasi akan
menurunkan aliran darah ke hati dan umumnya berkisar antara 15 sampai 45% dari
aliran darah sebelum anestesi dilakukan. Walaupun terjadi perubahan sepintas
pada tes fungsi hati selama operasi berlangsung, jarang terjadi perubahan
fungsi hati yang permanen yang diakibatkan pemakaian obat tersebut.
F.
Efek
terhadap otot polos uterus: Nitrogen oksida
mempunyai efek yang kecil terhadap otot polos uterus. Akan tetapi isofluran,
halotan dan enfluran merupakan relaksan otot uterus yang kuat. Efek farmakologi
ini akan menguntungkan bila diperlukan relaksasi otot uterus yang kuat untuk
memanipulasi janin intrauterin selama masa persalinan. Sebaliknya, selama masa
dilatasi dan kurefase terhadap abortus terapeutik, obat anesteik tersebut
mungkin dapat meningkatkan pendarahan.
Toksisitas
A.
Hepatoksisitas
(Halotan): biasanya hepatitis pascabedah selalu
dikaitkan dengan faktor lain seperti transfusi darah, syok hipovolemik, atau
stres bedah lainnya dibandingkan dengan toksisitas obat anestetik. Akan tetapi
obat halokarbon dapat menyebabkan
kerusakan hati sedangkan kloroform telah dikenal sebagai anestetik hepatotoksik
pada dasawarsa abad ini. Halotan telah diperkenalkan mulai tahun 1956 dan
sampai tahun 1963 telah banyak dilaporkan berbagai kasus ikterus pascabedah dan nekrosis hati yang berhubungan
dengan pemakaian halotan.
B.
Nefrotoksisitas
(Metoksifluran): tahun 1966, pertama kali dilaporkan
adanya penderita poliuri insufisiensi ginjal yang resisten terhadap vasopresin
pada 13 dari 41 penderita yang mendapat anestetik metoksifluran untukoperasi
abdomen. Akhirnya, diketahui penyebabnya adalah fluorida inorganik yang
merupakan produk akhir biotransformasi metoksifluran.
C.
Hipertermia
Berat: kemungkinan pada pada penderita yang
rentan secara genetik yang terpapar anestetik inhalasi dapat terjadi sindrom
yang bersifat letal secara potensialyang meliputi takikardia dan hipertensi
dengan asidosis yang progresif, hiperkalemia, kejang otot dan hipertermia.
D.
Toksisitas
Kronik:
1. Mutagenisitas—dalam
keadaan normal banyak anestetik modern dan anestetik inhalasi konvensional
tidak bersifat mutagen dan mungkin tidak karsinogen. Di lain pihak, anestetik
konvensional yang mengandung gugus vinil mungkin bersifat mutagen.
2. Karsinogenisitas—beberapa
penyelidikan epidemiologik telah
menggambarkan peningkatan angka kanker pada petugas kamar operasi yang mungkin
terpapar obat anestetik pada konsentrasi yang rendah.
3. Efek
pada reproduksi—dari survei untuk menentukan
keadaan reproduktif petugas kamar operasi wanita ternyata mempunyai insiden
keguguranyang lebih tinggi dari yang diperkirakan.
4. Hematotoksisitas—kontak
yang lama dengan nitrogen oksida akan menyebabkan anemia megaloblastik karena
penurunan aktivitas enzim metionin sintetase. Hal ini penting diketahui oleh
petugas kamar operasi yang bekerja pada kamar operasi dengan ventilasi yang
kurang baik.
Penggunaan Klinik Anestetik Inhalasi
Dari
semua obat anestetik inhalasi yang tersedia, nitrogen oksida, desfluran, dan
isofluran paling banyak dipergunakan di Amerika Serikat. Nitrogen oksida tidak
mempunyai kekuatan yang cukup untuk menimbulkan efek anestesi bila diberikan
tersendiri. Umumnya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan anestetik inhalasi
lainnya atau pun kombinasi dengan anestetik intravena untuk menimbulkan
anestetsi total.
OBAT ANESTESI INTRAVENA:
BARBITURAT KERJA ULTRA SINGKAT
BENZODIAZEPIN
ANESTESI ANALGESIK OPIOID
PROPOFOL
ETOMIDAT
KETAMIN
PREPARAT YANG TERSEDIA
Desfluran (Suprane)
Cairan:
240 mL untuk Inhalasi
Diazepam (generik,
Valium, lain-lain)
Oral:
tablet 2, 5, 10 mg; cairan 5 mg/5 mL dan 5 mg/mL
Oral
lepas lambat: kapsul 15 mg
Parenteral:
5 mg/mL untuk suntikan
Enflurane (Ethrane)
Cairan
125, 250 mL untuk inhalasi
Etomidat (Amidate)
Parenteral:
2 mg/mL untuk suntikan
Halotan (generik,
Fluothane)
Cairan:
125, 250 mL untuk inhalasi
Isofluran (Forane)
Cairan:
100 mL untuk inhalasi
Ketamin (Ketalar)
Parenteral:
10, 15, 100 mg/mL untuk suntikan
Lorazepam (generik,
Ativan, Alzapam)
Oral:
tablet 0,5; 1; 2 mg
Parenteral:
2,4 mg/mL untuk suntikan
Metoheksital (Brevital
Sodium)
Parenteral:
0,5; 2,5; 5 g serbuk untuk suntikan
Metoksifluran (Penthrane)
Cairan:
15, 125 mL untuk inhalasi
Midazolam (Versed)
Parenteral:
1,5 mg/mL untuk suntikan dalam vial 1, 2, 5, 10 mL
Nitrogen oksida (gas,
dalam tabung berwarna biru)
Propofol (Diprivan)
Parenteral:
10 mg/mL dalam 20 mL, vial untuk suntikan
Tiamilal (Surital)
Parenteral:
cairan untuk injeksi dalam vial 1, 5, 10 g
Tiopental (Penthotal)
Parenteral:
250, 400, 500 mg diisi ke dalam suntikan; 500 mg dan 1 g cairan dengan pelarutnya;
1, 2 ,5, 5 g kits
Rektal:
400 mg cairan diisike dalam suntikan
Anestesi Lokal
Obat anestesi regional/lokal
adalah obat yang menghambat hantaran saraf bila dikenakan secara lokal. Anestesi lokal idealnya adalah yang tidak mengiritasi atau
merusak jaringan secara permanen, batas keamanan lebar, mula kerja singkat,
masa kerja cukup lama, larut dalam air, stabil dalam larutan, dapat disterilkan
tanpa mengalami perubahan, dan efeknya reversible.
Farmakologi Dasar
Anestesi Lokal
Kimiawi
Umumnya obat anestesi lokal terdiri dari sebuah
gugus lipofilik yang berikatan dengan sebuah rantai perantara yang terikat pada
suatu gugus terionisasi. Aktivitas optimal memerlukan keseimbangan yang tepat
antara gugus lipofilik dan kekuatan hidrofilik. Penambahan sifat fisik molekul,
maka konfigurasi stereokimia spesifik kimia menjadi penting. Anestesi lokal
bersifat lemah. Untuk aplikasi terapeutik, biasanya dibuat sebagai garam agar
mudah larut dan lebih stabil. Di dalam tubuh, obat akan menjadi basa tanpa
muatan atau sebagai kation.
Farmakokinetik
Anestesi lokal biasanya diberikan secara suntikan ke
dalam daerah serabut saraf yang akan dihambat. Oleh karena itu, penyerapan dan
distribusi tidak begitu penting dalam memantau mula kerja efek dalam menentukan
mula kerja anestesi dan seperti halnya mula kerja anestesi umum terhadap SSP
dan toksisitasnya pada jantung. Aplikasi topikal anestesi lokal bagaimanapun
juga memerlukan difusi obat guna mula kerja dan lama kerja efek anestesinya.
A. Absorbsi
B. Distribusi
C. Metabolisme dan
ekskresi
Farmakodinamik
A.
Mekanisme Kerja : membran
yang mudah terangsang dari akson saraf, mirip dengan membran otot jantung dan
badan sel saraf. Selama eksitasi, saluran natrium terbuka, dan arus natrium
yang masuk cepat ke dalam sel dengan cepat mendepolarisasi membran ke arah keseimbangan
potensial natrium. Sebagai akibat depolarisasi ini, maka saluran natrium
menutup dan saluran kalium terbuka. Fungsi saluran natrium dapat diganggu
dengan beberapa cara. Racun biologi seperti bratakotoksin, akonitin, veratridin, dan beberapa bisa skorpion mengikat reseptor di
dalam saluran dan mencegah inaktivasinya.
Bila peningkatan konsentrasi secara
progresif anestesi lokal digunakan pada satu serabut saraf, nilai ambang
eksitasinya meningkat, konduksi impuls melambat, kecepatan munculnya potensial
aksi menurun, amplitudo potensial aksi mengecil, dan akhirnya kemampuan melapas
satu potensial aksi menghilang. Penghambatan saluran natrium oleh anestesi
lokal adalah bergantung pada voltase dan waktu. Diantara depolarisasi akson,
sebagian saluran natrium pulih dari penghambatan anestesi lokal.
Karakteristik
Struktur-Aktivitas Anestesi Lokal. Makin kecil dan
makin banyak molekul lipolifik, makin
cepat pula kecepatan interaksi dengan reseptor saluran natrium. Potensi
mempunyai hubungan positifpula dengan kelarutan lipid selama obat menahan
kelarutan air yang cukup untuk berdifusi ke tempat kerja. Lidokain, prokain,
dan mepivakain lebih larut dalam air dibandingkan tetrakain, etidokain, dan
bupivakain. Obat yang terakhir lebih kuat dengan masa kerja panjang. Obat-obat
tadi terikat lebih ekstensif pada protein dan akan menggeser atau digeser dari
tempat ikatannya oleh obat-obat lain.
B.
Aksi
terhadap saraf: karena anestesi lokal mampu
menghambat semua saraf, maka kerjanya tidak terbatas pada hilangnya sensasi
sakit dan nyeri yang diinginkan. Selama anestesi spinal, kelumpuhan motor
justru merusak aktivitas pernapasan dan penghambatan saraf otonom dapat
menimbulkan hipotensi.
1.
Efek
diameter serabut
2.
Efek
frekuensi letupan
3.
Efek
posisi saraf
C.
Efek
terhadap membran yang mudah terangsang lainnya: anestesi
lokal mempunyai efek menghambat otot saraf yang lemah dan tidak begitu penting
dalam klinik. Namun efeknya terhadap membran sel otot jantung mempunyai makna
klinik yang penting.
FARMAKOLOGI KLINIK
ANESTESI LOKAL
Anestesi lokal menyebabkan analgesia sementara
tetapi lengkap dari bagian tubuh yang berbatas tegas. Cara pemberian biasanya
dengan aplikasi topikal, suntikan pada daerah akhiran saraf perifer dan bundel
batang saraf dan instilasi ke dalam jaringan epidural dan ruang subarakhnoid
yang mengelilingi medula spinalis. Selain itu hambatan serabut simpatis otonom
dapat digunakan untuk mengevaluasi peran tonus simpatis pada pesien dengan
vasospasme perifer.
Mula kerja anestesi lokal kadang kala dapat
dipercepat dengan menggunakan larutan jenuh dengan CO2. Kadar CO2
jaringan yang tinggi menyebabkan asidosis intraselular, yang kemudian
menimbulkan tumpukan bentuk kation anestesi lokal. Suntikan anestesi lokal yang
berulang selama anestesi epidural menyebabkan hilangnya keefektifan. Hal ini
merupakan akibat dari asidosis ekstrasel lokal.
Toksisitas
Seharusnya
obat anestesi lokal diserap dari tempat pemberian obat. Jika kadar obat dalam
darah meningkat terlalu tinggi, maka akan timbul efek pada berbagai sistem
organ.
A.
Sistem
saraf pusat: sejak zaman prasejarah, penduduk asli
Peru telah mengunyah daun tumbuhan Erythroxylon
coca, sumber kokain, untuk memperoleh perasaan nyaman dan mengurangi
keletihan. Efek SSP yang kuat dapat diperoleh dengan menyedot bubuk kokain dan
menghisap rokok basa kokain. Kokain kini telah menjadi satu penyalahgunaan obat
yang paling banyak digunakan. Kejang akibat anestesi lokal dapat diobati dengan
hiperventilasi dan barbiturat kerja singkat dosis kecil.
B.
Sistem
saraf perifer: bila diberikan dalam dosis yang
sangat berlebiha, semua anestesi lokal akan menjadi toksik terhadap jaringan
saraf. Beberapa laporan menunjukan timbulnya kasus defisit sensoris dan motor
yang berlanjut setelah kecelakaan anestesi spinal dengan kloroprokain bervolume.
C.
Sistem
kardiovaskular: anestesi lokal menghambat saluran
natrium jantung sehingga menekan aktivitas pacu jantung, eksitabilitas, dan
konduksi jantung menjadi abnormal.
D.
Darah:
kadar methemoglobin demikian masih dapat ditolerir
pada individu yang sehat, tetapi mungkin menimbulkan dekompensasi pada pasien
dengan penyakit jantung atau paru sehingga perlu pengobatan segera.
E.
Reaksi
alergi: anestesilokal tipe ester dimetabolisir
menjadi turunan asam p-aminobenzoat.
Metabolit ini dapat menimbulkan reaksi alergi pada sekelompok kecil populasi.
PREPARAT YANG TERSEDIA
Benzokain (generik,
lain-lain)
Topikal: krim 5, 6%; gel 6, 20%; salep 5%; lotion
0,5%; semprot 20%
Bupivakain (generik,
)
Parenteral: 0,25, 0,5, 0,75% untuk suntikan; 0,25,
0,5, 0,75% dengan epinefrin 1:200000
Butamben
pikrat
(Butesin Picrate)
Topikal: salep 1%
Kloroprokain (Nesacaine)
Parenteral: 1, 2, 3%
untuk suntikan
Kokain (generik)
Topikal: larutan 40,
100 mg/mL; bubuk 5, 25 g; tablet mudah larut 135 mg
Dibukain (generik,
Nupercainal)
Topikal: krim 0,5%;
salep 1%
Diklonin (Dyclone)
Topikal: larutan 0,5,
1%
Etidokain (Duranest)
Parenteral: 1% untuk suntikan; 1, 1,5% dengan
epinefrin 1:200000 untuk suntikan
Lidokain (generik,
Xylocaine, lain-lain)
Parenteral: 0,5, 1, 1,5, 2, 4, 10, 20% untuk
suntikan; 0,5, 1, 1,5, 2% dengan epinefrin 1:200000; 1, 2% dengan epinefrin
1:100000; 2% dengan epinefrin 1:50000
Topikal: salep 2,5, 5%; krim 0,5%;
jelly dan larutan 2%; larutan 2, 4, 10%
Mepivakain (generik,
Carbocaine, lainnya)
Parenteral: 1, 1,5, 2,
3%untuk suntikan; 2% dengan levonordefrin 1:20000
Pramoksin (Tronothane,
Prax)
Topikal: krim 0,5, 1%;
lotion dan gel 1%
Prilokain (Citanest)
Parenteral: 4% untuk
suntikan; 4% dengan epinefrin 1:200000
Prokain (generik,
Novocain)
Parenteral: 1, 2, 10%
untuk suntikan
Propoksikain
dan Prokain
( Ravocaine
dan Novocaine)
Parenteral: 7,2 mg propoksikain dengan 36 mg prokain
dan norepinefrin atau kobefrin per 1,8 mL unit suntikan gigi
Tetrakain (Pontocaine)
Parenteral: 1% untuk suntikan; 0,2, 0,3% dengan 6% dekstrosa untuk anestesi spinal
Parenteral: 1% untuk suntikan; 0,2, 0,3% dengan 6% dekstrosa untuk anestesi spinal
Topikal: salep 0,5%; larutan
(oftalmik) 0,5%; krim 1%; larutan untuk kumur 2%


0 komentar:
Posting Komentar